Hawa Nafsu

Ternyata selama ini yang kita sebut nafsu itu adalah diri kita sendiri, kesadaran ini harus kita tanamkan kuat di dalam hati, bahwa: yang disebut seorang hamba adalah nafsu itu adanya,(jiwa-jiwa individu). Tuhan menciptakan manusia untuk tuhan (manifestasinya) sedang alam semesta diciptakan untuk manusia (melanyani dan menghamba), jadi jelaslah bahwa: manusia adalah tuan bagi alam semesta
Setelah kita mengerti yang dimaksud dengan hawa nafsu, maka selanjutnya kita harus selalu waspada menyingkapi segala kehendak kita, segalanya harus selalu terkontrol dan terkendali, jangan sampai mempertuan diri,
Kesadaran sebagai hamba yang lemah dan papa ini, akan meresap dalam penghayatan hidup sehari-hari. Manakala demikian, apa yang kita lakukan dalam hidup ini hanya untuk berbakti kepada Tuhan, dzat maulana yang maha kasih, dengan menjalankan berbagai macam ibadah, semata-mata hanya untuk mencari keridlaan-Nya. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka,(dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut; dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan(memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu; kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan, dan memperoleh(pula) di dalamnya apa yang kamu minta; sebagai hidangan(bagimu) dari Tuhan yang Maha pengampun lagi Maha Penyayang” (al-qur’an-fushilat-30-33).
Iman yang terus berkembang dalam hati, seiring dengan laku takwa dan mujahadah yang di kerjakan dengan istiqamah, merupakan perjanjian yang tidak terkatakan antara seorang hamba dengan tuan-Nya, hal ini akan membuat keterikatan jiwa dan rasa bergantung kepada Allah dalam segala urusan.
Jika dalam pengembangan iman ini kita bisa mencapai hakikatnya, maka kita tidak akan bisa memandang segala kenikmatan selain datang dari Allah yang maha kasih, terlepas dari semua sebab akibat, pun juga apa bila mendapatkan suatu kesulitan, maka tidak akan bisa berpaling kepada siapapun kecuali berlindung kepada Allah, sesuai firman Allah dalam al-qur’an :
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah(datangnya) dan bila kamu ditimpa oleh kemadlaratan, maka hanya kepada Allah-lah kamu meminta pertolongan.” (AN-NAHL-53).
Allah, Raja Diraja Penguasa dua Alam, apa bila Allah memberi pertolongan, seberat apapun kesulitan hambanya tentu tidak akan ada masalah lagi, dan juga apabila Allah tidak menurunkan pertolongan-Nya, sekalipun orang dimuka bumi ini berkumpul bersatu padu untuk memberikan pertolongan, niscaya tidak akan bisa memberikan pertolongan, walaupun hanya seteguk air.
Allah menanamkan keyakinan iman yang kuat di dalam hati seorang hamba, yang senantiasa menggosoknya dengan berdzikir dan berbagai macam ibadat lainnya, secara terus menerus, nur iman akan selalu terpancar didalam hati, sehingga mencapai puncaknya iman dan ikhsan.
Inilah kedudukan yang sangat mulia disisi Allah, bagi hamba-hamba Allah yang bersungguh sungguh menjalankan agamanya, mereka mendapatkan kehidupan yang mulia didalam dunia maupun di akhirat, seperti para ‘ulama’ul’amilin. Para mukhlisin, mutashaddikin, dan mujahidin, Allah menghiasi kehidupan mereka dengan budi pakarti yang sangat mulia, merekalah pewaris para nabi untuk membimbing umat manusia menuju kesejahteraan kehidupan. Orang orang ini dapat dicontoh, karena segala tindakan dan prilakunya selalu berpegang pada keta-atan didalam agama, dan mencerminkan akhlak Rasullah, Muhammad, saw. Sebagai uswatun khasanah.
Orang-orang ini disebut ‘arif billah (makrifatullah) dalam tatanan Muktasabah ‘ammah, yaitu khusus-khusunya umat dalam tataran iman. Allah berfirman :
“Ingatlah, sesungguhnya kekasih-kekasih Allah itu, tidak ada kekwatiran terhadap mereka, dan tidak (pula)mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa, bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia, dan (dalam)kehidupan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah(janji-janji)Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (al-qur’an-yunus-62-64)
Kedudukan ini dapat dicari oleh siapa saja tanpa pandang bulu, caranya iman, dibuktikan dengan perbuatan takwa, sehingga iman berkembang sampai pada puncaknya. Dan inilah puncak kedudukan yanng dapat dicapai oleh seorang hamba, selebihnya bukan keinginan seorang hamba, akan tetapi atas dasar kehendak Allah semata, makanya ilmu sejati tidak bisa dicapai dengan menghafal kitab-kitab suluk, pendeknya ilmu sejati tidak bisa dicapai dengan mengandalkan akal, betapun hebatnya
Kedudukan diatas ini hanya bagi orang-orang yang dipilih oleh Allah, yaitu orang-orang yang dikurniai oleh Allah mengetahui dzat-Nya, yang tak terbayangkan oleh siapapun, seperti para ambiyak para wali. Mengetahui wali ini, sangatlah sulit, karena umumnya mereka menutupi dirinya dengan sesuatu yang empreh, seperti jual kayu, buka warung kopi dsb, agar tetap terjaga kerahasiaan dirinya,. Karena wali ini sudah tidak dalam lingkaran iman lagi, maka kita tidak boleh mencontoh perbuatan wali ini, kecuali kalau mereka menjalankan syareat agama. Memang nabi Muhammad,saw. adalah nabi penutup Artinya tidak ada nabi lagi setelahnya, akan tetapi para wali ini secara ruhani tidaklah berbeda dengan para ambiyak. Yaitu Mempunyai kemampuan untuk mencapai nur wilayah, nur nubuat,dan nur ilahiyah,

Makrifatullah secara khusus; ini hanya bagi orang yang dibuka tabir dzatnya oleh Allah, sehingga dzatnya bisa memakai sifat-sifat khususnya rukhani, artinya dzatnya bisa berjalan(secepat cahaya) mencapai ribuan mil dalam sesa-at, naik kelangit, menerobos gunung, bumi dsb dengan tanpa alat. Makrifat khusus ini di isyaratkan oleh Allah dengan firman-Nya :
“Allah(pemberi) cahaya(kepada)langit dan bumi, perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar, pelita itu di dalam kaca(dan)kaca itu se-akan-akan bintang(yang bercahaya)seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya,(yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur(sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya(saja)hampir-hampir menerangi, walau tidak disentuh api, cahaya di atas cahaya, (ber-lapis-lapis) Allah membimbing kepada cahaya-Nya, kepada siapa yang dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah maha mengetahui segala sesuatu”, (al-qur’an-nuur-35)
Nur wilayah ini sebagaimana yang telah dikatakan oleh Abu Hurairah, ra. “Aku mendapatkan ilmu dua karung dari rasulullah, saw. Satu karung aku siarkan secara umum kepada kaum muslimin, satunya lagi aku simpan, andaikan aku siarkan tentu kaum muslimin akan memotong leher-ku,”.
Sekian dulu, semoga kita memahami siapa nafsu itu sebenarnya. Pendeknya nafsu bukanlah manusia tapi tidak disebut manusia tanpa adanya nafsu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s