IKHLAS

Ikhlas, merupakan pangkal /dasar keterimanya semua ‘amal, berapapun banyak ‘amal seorang hamba tanpa di dasari oleh ikhlas maka akan sia-sia, tidak akan bermanfaat apa-apa, semuanya Akan ditolak oleh Allah,
Ikhlas, beramal yang tidak ada pamrih apa-apa untuk dirinya, baik untuk keperluan dunia ataupun di alam akhirat pada nantinya, hal ini merupakan dasar keterimanya semua ‘amal, karena sifat ikhlas inilah yang bisa mengantarkan pada murninya suatu ‘amal, beribadah kepada Allah yang terselip pamrih untuk dirinya, misalnya ingin di kasih surga ataupun di selamatkan dari neraka, ini sebenarnya bukan beribadah pada Allah, melainkan memuja dirinya sendiri, karena dasar berdirinya ‘amal tersebut hanya untuk kemulyaan atau keselamatan dirinya, mereka tidak mengagungkan Allah, yang telah mnganugrahkan rahmatnya yang tak terhitung kepadanya, akan tetapi mengagungkan dan memuja dirinya, apa yang dilakukannya hanyalah untuk dirinya dan kesenangannya sendiri, ini adalah dosa besar yang tidak di sadarinya, bahkan mereka tidak sadar kalau mengadakan penipuan kepada Allah, mereka mengatakan kepada Allah, bahwa apa yang di lakukan/ ibadahnya hanya untuk Allah semata, “ sesungguhnya sholatku dan ibadah sunatku, hidup dan matiku hanya untuk (memuja dan mengagungkan) Allah Tuhan seru sekalian alam,” namun apa yang terjadi sesungguhnya di balik semua itu? Agar dirinya selamat dari neraka dan di masukkan ke dalam surga, apakah Allah tidak mengetaui apa yang tersembunyi di dalam hati mereka, apakah ini bukan suatu penipuan terhadap Allah, bukankah ini suatu perbuatan keji dan munafik, dimana apa yang dikatakann jauh berbeda dengan apa yang ada di lubuk hatinya.
Sekarang coba anda pikirkan, andaikan anda punya uang banyak dan ada teman anda yang suka datang kepada anda, dengan membawa banyak pujian untuk anda, dia tidak jemu-jemunya membicarakan kebaikan yang anda lakukan, tapi anda mengetaui di balik perbuatan teman anda tersebut, bertujuan agar anda senang dan mau memberikan sebagian uang kepadanya, bagaimana peraasaan anda, mungkin anda akan mengherdiknya dengan berkata, “ah sudah, diamlah aku malas mendengarnya”, atau mungkin dengan perasaan kesal (tidak suka) anda akan memberikan uang kepadanya, agar ia segera pergi.
Sekarang anda mengetaui kedudukan anda di hadapan Allah, apakah anda termasuk seorang hamba yang baik ataukah sebaliknya, seorang budak yang jelek, bilamana tidak di kasih gaji tidak mau bekerja. Allah berfirman:
“Katakanlah: sesungguhnya Aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan ‘amal yang sholih dan janganlah ia mempersekutukan dengan seorangpun dalam beribadat dengan Tuhannya” (al-qur’an-al-khahfi-110)
Dalam ayat ini ditegaskan bahwa: beribadat dengan tujuan selain Allah adalah syirik (dosa besar) termasuk beribadat agar selamat dari neraka maupun mendapatkan surga.( Artinya berangkat dari makhluk untuk makhluk (surga-neraka), bukan kepada Allah).
Sebagaimana ayat diatas bahwa: syirik ada dua macam. Pertama, syirik jahri (terang-terangan) seperti bersujud/memuja api/gunung/batu dan lain-lain sebagainya. Kedua, syirik khafi(samar) yaitu, beribadat kepada Allah, agar dimulyakan masyarakat, di puji-puji sebagai ‘ulama’ atau agar selamat dari neraka dan masuk kedalam surga.
Disini jadi jelaslah perbedaan kedudukan antara orang ‘awam dan orang khusus di dalam menjalankan ‘ibadat kepada Allah. Sebagaimana yang terjadi dikalangan orang ‘awam pada umumnya. hal ini terjadi karena kurangnya ilmu pengetahuan dan perhatian terhadap agama itu sendiri, sehingga mereka cenderung untuk menjalankan aktifitas agama secara formalitas belaka, tanpa memperhatikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, mereka menjalankan kegiatan ibadat hanya merupakan kegiatan rutinitas, asalkan sudah gugur kewajiban yang di bebankan, merekapun sudah puas,( ibarat orang punya hutang, asalkan sudah dibayar, bisa tidur dengan pulas), tanpa mengupayakan kesempurnaan di dalam menjalankan ibadat.
Dari praktek ibadat yang salah kaprah ini, mereka tidak bisa menerima anugrah yang seharusnya diterima, iman yang bersemayam di hati tidak ada peningkatan dari tahun ke tahun, bahkan sampai akhir hidupnya, imannya masih sebatas itu-itu saja.
Padahal kalau mereka mau, mereka dapat meningkatkan martabat kehidupan yang lebih tinggi dan mulia disisi Allah, dengan menambah ilmu pengetahuan dan memperbaiki kualitas ibadahnya, sehingga menjadi seorang hamba yang baik dan bisa berbakti dengan benar terhadap tuannya.
Kekhususan dalam beribadat ini dapat memicu iman didalam dada, iman terus berkembang tiada henti, seiring dengan ibadat yang dilakukan, dari aktifitas semacam ini tahap demi tahap akan meningkat kedudukannya disisi Allah, sehingga menjadi umat yang khusus. Allah berfirman:
“Ingatlah, sesungguhnya para kekasih Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira didalam kehidupan didunia dan (dalam kehidupan)di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat(janji-janji)Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”. (Al-qur’an- Yunus-62-64)
Martabat ini dapat di usahakan oleh siapa saja tanpa pandang bulu, modalnya iman yang dibuktikan dengan sifat taqwa, iman yang dikembangkan dengan sunguh-sunguh sehingga Nurul iman terpancar didalam hati.
Ada tiga (3) macam golongan beribadat kepada Tuhan:
1. Beribadat kepada Allah agar selamat dari neraka dan masuk surga (orang ‘awam), ini derajat paling rendah, karena apa yang dikerjakan ada pamrih untuk dirinya.
2. Beribadat kepada Allah, karena cinta dan sayangnya kepada Allah (mukhibbin), kedahsatan cinta kasih terhadap Allah, bergelora di dalam jiwa, sehingga surga dan neraka tidak berarti apa-apa baginya, seperti pengaduan Robi’ah al-‘adawiyah waktu munajad kepada Allah,
“Oh, Tuanku, Aku beribadat bukan takut kepada nerakamu dan bukan karena ingin surgamu, akan tetapi Aku memujamu karena aku mencintaimu, Tuanku, aku rela kamu masukkan kedalam nerakamu, tetapi jangan halangi aku untuk melihat wajahmu”.
Beribadat kepada Allah, tanpa bisa melihat bisa melakukan ibadat (‘arifin), seperti embun yang telah jatuh ke laut, dirinya hilang/lebur dalam kefanaan kepada Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s