MENCARI KHUSNUL KHOTIMAH

Didalam menghadapi kematian, seorang mukmin harus sudah mampu mempersiapkan adanya empat perkara, untuk mencapai khusnul khotimah:

  1. Tidak ada perasaan benci/dendam kepada siapapun, memandang kepada sesama hidup dengan penuh kasih sayang, sebagaimana menyayangi pada dirinya sendiri, karena perasaan benci/dendam ini akan menyeret dalam penderitan didalam menuju pada Allah.

Ketahuilah wahai hamba Allah, sesungguhnya dendam / kebencian yang mengarat di hati, itu akan menyeret pada penderitaan yang tak terkirakan dalam perjalan anda nantinya, karena khakikatnya yang anda benci itu adalah diri anda sendiri,  rasa benci itu akan menjelma sebagai sifat malaikat yang sangat kasar, bengis, kejam, akan menghadang di tengah perjalanan anda, dengan penuh kemurkaan tanpa ada rasa kasian sedikitpun.

  1. Membuka dada untuk memberikan maaf pada siapapun yang pernah melakukan kesalahan, juga tidak malu untuk minta maaf, apabila pernah melakukan kesalahan. Sifat pemaaf dan memaafkan ini, lahir dari sifat kasih sayang yang tulus, yang akan memicu kesadaran, bahwa manusia itu sama saja, kaya, miskin, didalam istana maupun dibawah kolong jembatan, nabi, wali, ulama’ ataupun pendusta, sebaik-baik manusia tentu ada kekurangannya, sejahat-jahat manusia tentu ada kebaikannya, semua manusia ini dibawah kekuasaan Allah dan dalam pengendaliannya.

Pernahkah anda menonton penggelaran wayang kulit. Rahwanaraja yang menculik dewi Sinta isteri Ramawijaya, bisa jadi anda mengutuk Rahwanaraja karena kejahatannya, dan mendukung Ramawijaya karena kebaikannya, padahal menurut kiyai dalang keduanya sama saja, ia tidak akan membenci Rahwanaraja atau memuja Ramawijaya  yang ada di tangannya.

  1. Mampu melepaskan keterikatan dengan dunia, ketahuilah bahwa: Allah membuka hati manusia menjelang kamatiannya, untuk siapa saja, (tidak pandang bulu) orang baik ataupun penjahat, semua akan merasakan/mengetahui kalau kematiannya akan tiba, waktu itu apa saja yang dicintai akan tampak dalam mata hatinya, seperti keluarga, anak/isteri, harta kekayaan, ataupun kedudukan dsb.  Apabila jiwanya kalah, bagaikan lingkaran setan kesadaran hati akan tertutup, kecintaan terhadap dunia sedemikian kuat mengikat, sehingga membuatnya tidak rela menerima ketentuan-ketentuan Allah.(kematian). Di dalam hadis kudsi di isyaratkan:

“Aku Allah, tiada Tuhan selain Aku, barang siapa yang tidak bersyukur atas ni’mat-ni’mat-Ku, tidak bersabar terhadap cobaan-cobaan-Ku, tidak rela kepada ketentuan-ketentuan-Ku, maka silahkan cari Tuhan lain selain Aku”.

Padahal tidak ada rakhmat kecuali rakhmatnya Allah, tidak ada naungan kecuali naungannya Allah, tiada kasih sayang kecuali kasih sayang Allah, barang siapa mencari kesatuan lain selain Allah, maka akan nistalah mereka.

Manakala dalam keadaan demikian kematian menjemputnya, maka jiwa akan terperangkap dalam tali-temali yang berkepanjangan, dan tiada putusnya, jiwa akan merasa kehilangan dan perpisahan ini akan membuat sakit yang luar biasa.

Keterikatan ini akibat manusia suka mengklim yang bukan miliknya. Sekarang saya kasih tamsil yang mudah, kenapa waktu mendengar kabar, tetangga anda kehilangan montor, sedikitpun anda tidak berduka, atau mungkin anda berduka tapi coma sebatas bibir, begitu cepat anda melupakannya. 

Tapi begitu ayam jago kesayangan anda hilang anda sangat menyesalinya,  bahkan sampai be-berapa hari anda belum bisa melupakannya, inilah sebabnya, jiwa manusia akan senantiasa terikat dengan apa yang di akui menjadi miliknya. Jadikan jiwa anda merdeka, dengan mengembalikan semua yang ada pada pemiliknya, agar anda bisa menikmati dan merasakan betapa besar anugrah dan kasih sayang Allah.

  1. Hanya mencintai Allah, tidak sampurna iman seseorang sebelum mencintai Allah beserta rasulnya lebih dari segalanya, perasaan cinta kepada Allah ini timbul akibat selalu melihat sifat baiknya Allah, Allah maha kasih, apapun kenikmatan yang dirasakan/datang, semata-mata anugrah dari Allah terlepas dari usaha/kemampuan, (sebab-akibat). hal ini bisa memicu kesadaran jiwa membalas kebaikan Allah, dengan penuh cinta kasih, dan bergantung kepada Allah dalam segala hal.

 Waktu Allah membuka tabirnya hati menjelang kematian, jiwa menjadi sadar bahwa saat yang di nanti-nanti telah tiba, rasa bahagia menyusup ke dalam hati karena sebentar lagi akan bertemu dengan kekasih, yang selama ini telah di rindukan. Rasa sakit kematian yang bagaikan terkelupas tidak bisa dirasakan, terhapus oleh kedahsatan cinta kasih yang bergelora di dalam jiwa, dalam hal ini Allah mengisyaratkan:

“Maka tetkala wanita itu (Zulaikha)mendengar cercaan mereka, diundangnya wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk dan diberikannya pada masing-masing mereka sebuah pisau(untuk memotong jamuan) kemudian dia berkata (kepada Yusuf) : “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka,” Maka tetkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata : “Maha sampurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia” (al-qur’an, yusuf, 31)

Rasa kagum dan terpesona menghilangkan kesadaran diri, sehingga rasa sakit tidak terasa lagi. Begitu ibaratnya, waktu kematian mendatangi para mukmin khakiki, mereka tidak merasakan apa-apa karena besarnya kecintaan yang bergelora didalam jiwa, hilanglah semua rasa sakit tenggelam dalam kelezatan sifat jamalnya Allah. Dalam al-qur;an di isyaratkan:

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Al-Fajar-27-30).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s