Pellentesque Habitant Posuere

Pellentesque Habitant Posuere.

Advertisements

I really like, and feel fortunate to enjoy

The WordPress.com Blog

If you ever had a question about WordPress.com, chances are you’ve visited our Community Support Forums. Forums are a great place to search for solutions and get answers to your questions. One cool thing about the forums is that while Happiness Engineers help out there, WordPress.com enthusiasts — people who have a strong interest in WordPress.com and helping other people — provide the majority of answers.

Sergio Ortega (airodyssey) is a prolific forum contributor. We asked him a bit about himself, how he got involved in the forums, and his tips for getting and providing great support.

Sergio Ortega

You’ve been blogging about your passion — aviation — since 1998, and moved your website to WordPress.com in 2010. Tell us about your site and how you decided to move to WordPress.com.

I had always wanted to write about aviation and share my passion with the world, but could not find a way…

View original post 701 more words

thanks for your information

The WordPress.com Blog

A simple way to add visual variety to your site’s front page is to publish your content using Post Formats. Over 50 of our themes support Post Formats, which means they can display various types of content — including images, videos, quotes, links, audio, and short snippets called “asides” — with different formatting, adding subtle but nice touches to your site.

The types of Post Formats you can choose from depends on your theme. To see what Post Formats your current theme supports, go to Posts » Add New in the dashboard and look for a Format module on the right, with various options like the one below:

Format Module

Using Post Formats is optional — if your theme supports them, you don’t have to use them, since the default (standard) format works well with any content you publish. Using Post Formats is also free: you don’t need to purchase the custom…

View original post 185 more words

MENCARI KHUSNUL KHOTIMAH

Didalam menghadapi kematian, seorang mukmin harus sudah mampu mempersiapkan adanya empat perkara, untuk mencapai khusnul khotimah:

  1. Tidak ada perasaan benci/dendam kepada siapapun, memandang kepada sesama hidup dengan penuh kasih sayang, sebagaimana menyayangi pada dirinya sendiri, karena perasaan benci/dendam ini akan menyeret dalam penderitan didalam menuju pada Allah.

Ketahuilah wahai hamba Allah, sesungguhnya dendam / kebencian yang mengarat di hati, itu akan menyeret pada penderitaan yang tak terkirakan dalam perjalan anda nantinya, karena khakikatnya yang anda benci itu adalah diri anda sendiri,  rasa benci itu akan menjelma sebagai sifat malaikat yang sangat kasar, bengis, kejam, akan menghadang di tengah perjalanan anda, dengan penuh kemurkaan tanpa ada rasa kasian sedikitpun.

  1. Membuka dada untuk memberikan maaf pada siapapun yang pernah melakukan kesalahan, juga tidak malu untuk minta maaf, apabila pernah melakukan kesalahan. Sifat pemaaf dan memaafkan ini, lahir dari sifat kasih sayang yang tulus, yang akan memicu kesadaran, bahwa manusia itu sama saja, kaya, miskin, didalam istana maupun dibawah kolong jembatan, nabi, wali, ulama’ ataupun pendusta, sebaik-baik manusia tentu ada kekurangannya, sejahat-jahat manusia tentu ada kebaikannya, semua manusia ini dibawah kekuasaan Allah dan dalam pengendaliannya.

Pernahkah anda menonton penggelaran wayang kulit. Rahwanaraja yang menculik dewi Sinta isteri Ramawijaya, bisa jadi anda mengutuk Rahwanaraja karena kejahatannya, dan mendukung Ramawijaya karena kebaikannya, padahal menurut kiyai dalang keduanya sama saja, ia tidak akan membenci Rahwanaraja atau memuja Ramawijaya  yang ada di tangannya.

  1. Mampu melepaskan keterikatan dengan dunia, ketahuilah bahwa: Allah membuka hati manusia menjelang kamatiannya, untuk siapa saja, (tidak pandang bulu) orang baik ataupun penjahat, semua akan merasakan/mengetahui kalau kematiannya akan tiba, waktu itu apa saja yang dicintai akan tampak dalam mata hatinya, seperti keluarga, anak/isteri, harta kekayaan, ataupun kedudukan dsb.  Apabila jiwanya kalah, bagaikan lingkaran setan kesadaran hati akan tertutup, kecintaan terhadap dunia sedemikian kuat mengikat, sehingga membuatnya tidak rela menerima ketentuan-ketentuan Allah.(kematian). Di dalam hadis kudsi di isyaratkan:

“Aku Allah, tiada Tuhan selain Aku, barang siapa yang tidak bersyukur atas ni’mat-ni’mat-Ku, tidak bersabar terhadap cobaan-cobaan-Ku, tidak rela kepada ketentuan-ketentuan-Ku, maka silahkan cari Tuhan lain selain Aku”.

Padahal tidak ada rakhmat kecuali rakhmatnya Allah, tidak ada naungan kecuali naungannya Allah, tiada kasih sayang kecuali kasih sayang Allah, barang siapa mencari kesatuan lain selain Allah, maka akan nistalah mereka.

Manakala dalam keadaan demikian kematian menjemputnya, maka jiwa akan terperangkap dalam tali-temali yang berkepanjangan, dan tiada putusnya, jiwa akan merasa kehilangan dan perpisahan ini akan membuat sakit yang luar biasa.

Keterikatan ini akibat manusia suka mengklim yang bukan miliknya. Sekarang saya kasih tamsil yang mudah, kenapa waktu mendengar kabar, tetangga anda kehilangan montor, sedikitpun anda tidak berduka, atau mungkin anda berduka tapi coma sebatas bibir, begitu cepat anda melupakannya. 

Tapi begitu ayam jago kesayangan anda hilang anda sangat menyesalinya,  bahkan sampai be-berapa hari anda belum bisa melupakannya, inilah sebabnya, jiwa manusia akan senantiasa terikat dengan apa yang di akui menjadi miliknya. Jadikan jiwa anda merdeka, dengan mengembalikan semua yang ada pada pemiliknya, agar anda bisa menikmati dan merasakan betapa besar anugrah dan kasih sayang Allah.

  1. Hanya mencintai Allah, tidak sampurna iman seseorang sebelum mencintai Allah beserta rasulnya lebih dari segalanya, perasaan cinta kepada Allah ini timbul akibat selalu melihat sifat baiknya Allah, Allah maha kasih, apapun kenikmatan yang dirasakan/datang, semata-mata anugrah dari Allah terlepas dari usaha/kemampuan, (sebab-akibat). hal ini bisa memicu kesadaran jiwa membalas kebaikan Allah, dengan penuh cinta kasih, dan bergantung kepada Allah dalam segala hal.

 Waktu Allah membuka tabirnya hati menjelang kematian, jiwa menjadi sadar bahwa saat yang di nanti-nanti telah tiba, rasa bahagia menyusup ke dalam hati karena sebentar lagi akan bertemu dengan kekasih, yang selama ini telah di rindukan. Rasa sakit kematian yang bagaikan terkelupas tidak bisa dirasakan, terhapus oleh kedahsatan cinta kasih yang bergelora di dalam jiwa, dalam hal ini Allah mengisyaratkan:

“Maka tetkala wanita itu (Zulaikha)mendengar cercaan mereka, diundangnya wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk dan diberikannya pada masing-masing mereka sebuah pisau(untuk memotong jamuan) kemudian dia berkata (kepada Yusuf) : “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka,” Maka tetkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata : “Maha sampurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia” (al-qur’an, yusuf, 31)

Rasa kagum dan terpesona menghilangkan kesadaran diri, sehingga rasa sakit tidak terasa lagi. Begitu ibaratnya, waktu kematian mendatangi para mukmin khakiki, mereka tidak merasakan apa-apa karena besarnya kecintaan yang bergelora didalam jiwa, hilanglah semua rasa sakit tenggelam dalam kelezatan sifat jamalnya Allah. Dalam al-qur;an di isyaratkan:

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Al-Fajar-27-30).

CIPTAKAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

            Dengan terjadinya kemelut di Malaysia akhir ini, tentang  orang islam yang melarang umat kristiani menyabut asma Allah sebagai Tuhan, marilah kita kaji serta pahami agama secara saksama, agar kita lebih bisa menghayati agama masing-masing, dan tidah mudah terpancing emosi, yang memicu pertikaian dan permumusan antar umat beragama. Sesungguhnya semua agama adalah sama dalam hakikatnya, yaitu berisi tatanan yang mengatur terhadap sesamanya dan penciptanya, semua agama pasti berisikan tentang ajaran penyembahan terhadap Tuhan. Pecipta semesta alam. Semua agama pasti berdiri diatas landasan hukum suci, berdasarkan moral, demi terjaganya keseimbangan dan kesejahteraan kehidupan. Tetapi hal itu bukan berarti bahwa, semua agama adalah sama, sebangun, sewarna dan secitra. Keragaman agama justru merupakan keniscayaan dari kesempurnaan-Nya, sebagai sang pecipta, yang wajib disembah oleh semua bangsa, bahkan semua mahluk di alam raya yang tidak terhitung ragamnya. Adapun kawajiban umat beragama adalah: menjalankan ajaran agamanya dengan baik, dan mampu hidup rukun berdampingan dengan semua pemeluk agama, saling menghormati kepercayaan masing-masing.

            Sebagaimana ajaran Islam dalam hakikatnya tidaklah berbeda dengan ajaran Syiwa-Budha. Hanya nama-nama, bahasa serta tatanan dalam keduanya yang berbeda. Sebab sesungguhnya semua agama adalah satu dalam hakikat. Sekarang mari kita kaji dan renungkan secara saksama, sebetulnya yang disebut ‘’Yang Maha Baik” dan “Pangkal Keselamatan” di dalam keyakinan Syiwa-Budha, tidaklah berbeda dengan yang di sebut Allah Yang Maha baik(Al-Jamal),dan pangkal keselamatan As Salam di dalam Islam.

            Jika Syiwa, sebagai pangkal pencipta makhluk yang diciptanya disebut dengan nama Brahma, maka Allah, sebagai pangkal pecipta makhluk yang diciptanya disebut dengan nama al-Khaliq. Syiwa sebagai penguasa makhluk disebut dengan nama Prajapati. Allah sebagai penguasa makhluk disebut al-Malik-al-Mulki. Syiwa sebagai yang maha pengasih dan pemurah disebut Sankara. Allah sebagai yang maha pengasih dan pemurah disebut ar-Rakhman-ar-Rahim.

            Adapun lambang-lambang lingga yang dijadikan pratima dalam pemujaan terhadap Syiwa sebenarnya tidaklah berbeda dengan Ka’bah, batu yang dijadikan kiblat orang-orang islam didalam menyembah Allah. Jelaslah bahwa: Syiwalingga ataupun Ka’bah adalah lambang untuk menyelubungi rahsia keberadaan-Nya.sebab Syiwa ataupun Allah, dalam hakikatnya adalah Dia, Yang ilahi, yang maha tunggal, yang tidak terjangkau oleh akal dan tak tersentuh oleh indra. Yaitu dia, yang memiliki sifat Browo (wujud), Na Jayate (tak dilahirkan), Nittya (kekal),  Saswato (abadi), Purano(yang maha awal), Awyakta (tidak terbandingkan), Acintya (tidak terpikirkan),Sthanur (tidak berubah), Sarwagatab (maha ada), Aprameyasya (tidak terbatas),Widhi (maha tahu), Awinasi (tak termusnahkan),.

Tuhan adalah Maha Esa, pencipta segalanya, meliputi semesta alam, sumber dari segala sumber, sebagai dasar adanya alam semesta, segala yang ada baik yang tampak ataupun tidak berasal dari-Nya, mukhal apabila Sang mutlak itu mendua, sebetulnya ini lebih mudah untuk dipahami karena kesampurnaan-Nya.

            Sebenarnya manusialah yang memberikan nama untuk tuhan, dengan nama yang bermacam-macam, untuk memujanya dan mengagungkan dzatnya, jadi jelaslah, kalau kita mengagungkan tuhan, dengan menyebut keagungan nama- nama Tuhan seperti apa saja, Tuhan, tetaplah Tuhan. sebagaimana misalnya, kita menyebut matahari dengan nama apa saja, mata hari, ya tetap seperti itu (yang kita lihat). Kemudian, kenapa agama menggunakan pratima dalam memuja tuhan ? ini agar para pengikutnya (orang awam) tidak menjadi bingung, dimana dan menghadap kemana kita menyembah/memuja Tuhan.

Dengan memahami bahwa: keberadaan KA’bah bagi umat Islam tidak berbeda dengan keberadaan  lingga bagi umat Hindu, artinya sebagai lambang pemujaan kepada yang mutlak, maka sangatlah tidak benar, apa bila kita sesama umat beragama terjadi permusuhan dan pertentangan. Allah berfirman”Tidak ada paksaan dalam beragama” (al-baqarah-256). karena apapun alasannya permusuhan akan menghilangkan kesetabilan kehidupan yang berujung pada suatu kehancuran.

            Kami menghimbau kepada umat Hindu-Budha kususnya dan segenap umat beragama umumnya, mari kita tingkatkan kwalitas beragama dengan menjalankan ajaran agama dengan tertip, tidak ada agama di dunia ini yang menganjurkan keburukan pada umatnya, ciptakan kedamaian dan kerukunan antar umat beragama, karena sebenarnya tiap-tiap pertentangan dalam masalah agama,  hanya karena ketidak tahuan masing-masing pemeluk agama terhadap hakikat Yang Ilahi  dan alam ciptaan-Nya, beserta peraturan-peraturan yang ditetapkan-Nya, orang Islam mencela Syiwa Budha, itu disebabkan mereka tidak tahu bahwa: di dalam Syiwa Budha terdapat ajaran rahasia adwayasastra (ilmu tauhid) mengesakan Tuhan. Umat Islam awam banyak yang tidak mengetahui kalau diantara umat Hindu terdapat ahli-ahli tauhid, yaitu orang yang tidak lagi menggunakan pratima dalam memuja-Nya, yaitu orang yang mengenal Syiwa melalui Kulatatwa, umat Islam awam juga banyak yang tidak menyadari kalau bersembahyang menghadap ke Ka’bah, itu sebenarnya mereka menggunakan pratima (ka’bah yang disebut rumah Tuhan/baitullah), sebagaimana penganut Syiwa Budha menggunakan lingga, yang membedakan ka’bah dan Syiwa lingga, adalah pratima ka’bah itu merupakan satu kiblat pemujaan umat islam diseluruh dunia, sedangkan Syiwa lingga berada di berbagai tempat, dimana-mana orang dapat memuja-Nya, jadi jelaslah bawa: ka’bah maupun Syiwa lingga adalah pratima Yang Ilahi yang berbentuk batu. Semoga sekilas ulasan ini bisa membuka hati kita untuk saling memahami dan menghargai, sehingga terciptalah kedamaian di bumi. Amin.

 

Hawa Nafsu

Ternyata selama ini yang kita sebut nafsu itu adalah diri kita sendiri, kesadaran ini harus kita tanamkan kuat di dalam hati, bahwa: yang disebut seorang hamba adalah nafsu itu adanya,(jiwa-jiwa individu). Tuhan menciptakan manusia untuk tuhan (manifestasinya) sedang alam semesta diciptakan untuk manusia (melanyani dan menghamba), jadi jelaslah bahwa: manusia adalah tuan bagi alam semesta
Setelah kita mengerti yang dimaksud dengan hawa nafsu, maka selanjutnya kita harus selalu waspada menyingkapi segala kehendak kita, segalanya harus selalu terkontrol dan terkendali, jangan sampai mempertuan diri,
Kesadaran sebagai hamba yang lemah dan papa ini, akan meresap dalam penghayatan hidup sehari-hari. Manakala demikian, apa yang kita lakukan dalam hidup ini hanya untuk berbakti kepada Tuhan, dzat maulana yang maha kasih, dengan menjalankan berbagai macam ibadah, semata-mata hanya untuk mencari keridlaan-Nya. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka,(dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut; dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan(memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu; kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan, dan memperoleh(pula) di dalamnya apa yang kamu minta; sebagai hidangan(bagimu) dari Tuhan yang Maha pengampun lagi Maha Penyayang” (al-qur’an-fushilat-30-33).
Iman yang terus berkembang dalam hati, seiring dengan laku takwa dan mujahadah yang di kerjakan dengan istiqamah, merupakan perjanjian yang tidak terkatakan antara seorang hamba dengan tuan-Nya, hal ini akan membuat keterikatan jiwa dan rasa bergantung kepada Allah dalam segala urusan.
Jika dalam pengembangan iman ini kita bisa mencapai hakikatnya, maka kita tidak akan bisa memandang segala kenikmatan selain datang dari Allah yang maha kasih, terlepas dari semua sebab akibat, pun juga apa bila mendapatkan suatu kesulitan, maka tidak akan bisa berpaling kepada siapapun kecuali berlindung kepada Allah, sesuai firman Allah dalam al-qur’an :
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah(datangnya) dan bila kamu ditimpa oleh kemadlaratan, maka hanya kepada Allah-lah kamu meminta pertolongan.” (AN-NAHL-53).
Allah, Raja Diraja Penguasa dua Alam, apa bila Allah memberi pertolongan, seberat apapun kesulitan hambanya tentu tidak akan ada masalah lagi, dan juga apabila Allah tidak menurunkan pertolongan-Nya, sekalipun orang dimuka bumi ini berkumpul bersatu padu untuk memberikan pertolongan, niscaya tidak akan bisa memberikan pertolongan, walaupun hanya seteguk air.
Allah menanamkan keyakinan iman yang kuat di dalam hati seorang hamba, yang senantiasa menggosoknya dengan berdzikir dan berbagai macam ibadat lainnya, secara terus menerus, nur iman akan selalu terpancar didalam hati, sehingga mencapai puncaknya iman dan ikhsan.
Inilah kedudukan yang sangat mulia disisi Allah, bagi hamba-hamba Allah yang bersungguh sungguh menjalankan agamanya, mereka mendapatkan kehidupan yang mulia didalam dunia maupun di akhirat, seperti para ‘ulama’ul’amilin. Para mukhlisin, mutashaddikin, dan mujahidin, Allah menghiasi kehidupan mereka dengan budi pakarti yang sangat mulia, merekalah pewaris para nabi untuk membimbing umat manusia menuju kesejahteraan kehidupan. Orang orang ini dapat dicontoh, karena segala tindakan dan prilakunya selalu berpegang pada keta-atan didalam agama, dan mencerminkan akhlak Rasullah, Muhammad, saw. Sebagai uswatun khasanah.
Orang-orang ini disebut ‘arif billah (makrifatullah) dalam tatanan Muktasabah ‘ammah, yaitu khusus-khusunya umat dalam tataran iman. Allah berfirman :
“Ingatlah, sesungguhnya kekasih-kekasih Allah itu, tidak ada kekwatiran terhadap mereka, dan tidak (pula)mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa, bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia, dan (dalam)kehidupan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah(janji-janji)Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (al-qur’an-yunus-62-64)
Kedudukan ini dapat dicari oleh siapa saja tanpa pandang bulu, caranya iman, dibuktikan dengan perbuatan takwa, sehingga iman berkembang sampai pada puncaknya. Dan inilah puncak kedudukan yanng dapat dicapai oleh seorang hamba, selebihnya bukan keinginan seorang hamba, akan tetapi atas dasar kehendak Allah semata, makanya ilmu sejati tidak bisa dicapai dengan menghafal kitab-kitab suluk, pendeknya ilmu sejati tidak bisa dicapai dengan mengandalkan akal, betapun hebatnya
Kedudukan diatas ini hanya bagi orang-orang yang dipilih oleh Allah, yaitu orang-orang yang dikurniai oleh Allah mengetahui dzat-Nya, yang tak terbayangkan oleh siapapun, seperti para ambiyak para wali. Mengetahui wali ini, sangatlah sulit, karena umumnya mereka menutupi dirinya dengan sesuatu yang empreh, seperti jual kayu, buka warung kopi dsb, agar tetap terjaga kerahasiaan dirinya,. Karena wali ini sudah tidak dalam lingkaran iman lagi, maka kita tidak boleh mencontoh perbuatan wali ini, kecuali kalau mereka menjalankan syareat agama. Memang nabi Muhammad,saw. adalah nabi penutup Artinya tidak ada nabi lagi setelahnya, akan tetapi para wali ini secara ruhani tidaklah berbeda dengan para ambiyak. Yaitu Mempunyai kemampuan untuk mencapai nur wilayah, nur nubuat,dan nur ilahiyah,

Makrifatullah secara khusus; ini hanya bagi orang yang dibuka tabir dzatnya oleh Allah, sehingga dzatnya bisa memakai sifat-sifat khususnya rukhani, artinya dzatnya bisa berjalan(secepat cahaya) mencapai ribuan mil dalam sesa-at, naik kelangit, menerobos gunung, bumi dsb dengan tanpa alat. Makrifat khusus ini di isyaratkan oleh Allah dengan firman-Nya :
“Allah(pemberi) cahaya(kepada)langit dan bumi, perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar, pelita itu di dalam kaca(dan)kaca itu se-akan-akan bintang(yang bercahaya)seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya,(yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur(sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya(saja)hampir-hampir menerangi, walau tidak disentuh api, cahaya di atas cahaya, (ber-lapis-lapis) Allah membimbing kepada cahaya-Nya, kepada siapa yang dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah maha mengetahui segala sesuatu”, (al-qur’an-nuur-35)
Nur wilayah ini sebagaimana yang telah dikatakan oleh Abu Hurairah, ra. “Aku mendapatkan ilmu dua karung dari rasulullah, saw. Satu karung aku siarkan secara umum kepada kaum muslimin, satunya lagi aku simpan, andaikan aku siarkan tentu kaum muslimin akan memotong leher-ku,”.
Sekian dulu, semoga kita memahami siapa nafsu itu sebenarnya. Pendeknya nafsu bukanlah manusia tapi tidak disebut manusia tanpa adanya nafsu.

IKHLAS

Ikhlas, merupakan pangkal /dasar keterimanya semua ‘amal, berapapun banyak ‘amal seorang hamba tanpa di dasari oleh ikhlas maka akan sia-sia, tidak akan bermanfaat apa-apa, semuanya Akan ditolak oleh Allah,
Ikhlas, beramal yang tidak ada pamrih apa-apa untuk dirinya, baik untuk keperluan dunia ataupun di alam akhirat pada nantinya, hal ini merupakan dasar keterimanya semua ‘amal, karena sifat ikhlas inilah yang bisa mengantarkan pada murninya suatu ‘amal, beribadah kepada Allah yang terselip pamrih untuk dirinya, misalnya ingin di kasih surga ataupun di selamatkan dari neraka, ini sebenarnya bukan beribadah pada Allah, melainkan memuja dirinya sendiri, karena dasar berdirinya ‘amal tersebut hanya untuk kemulyaan atau keselamatan dirinya, mereka tidak mengagungkan Allah, yang telah mnganugrahkan rahmatnya yang tak terhitung kepadanya, akan tetapi mengagungkan dan memuja dirinya, apa yang dilakukannya hanyalah untuk dirinya dan kesenangannya sendiri, ini adalah dosa besar yang tidak di sadarinya, bahkan mereka tidak sadar kalau mengadakan penipuan kepada Allah, mereka mengatakan kepada Allah, bahwa apa yang di lakukan/ ibadahnya hanya untuk Allah semata, “ sesungguhnya sholatku dan ibadah sunatku, hidup dan matiku hanya untuk (memuja dan mengagungkan) Allah Tuhan seru sekalian alam,” namun apa yang terjadi sesungguhnya di balik semua itu? Agar dirinya selamat dari neraka dan di masukkan ke dalam surga, apakah Allah tidak mengetaui apa yang tersembunyi di dalam hati mereka, apakah ini bukan suatu penipuan terhadap Allah, bukankah ini suatu perbuatan keji dan munafik, dimana apa yang dikatakann jauh berbeda dengan apa yang ada di lubuk hatinya.
Sekarang coba anda pikirkan, andaikan anda punya uang banyak dan ada teman anda yang suka datang kepada anda, dengan membawa banyak pujian untuk anda, dia tidak jemu-jemunya membicarakan kebaikan yang anda lakukan, tapi anda mengetaui di balik perbuatan teman anda tersebut, bertujuan agar anda senang dan mau memberikan sebagian uang kepadanya, bagaimana peraasaan anda, mungkin anda akan mengherdiknya dengan berkata, “ah sudah, diamlah aku malas mendengarnya”, atau mungkin dengan perasaan kesal (tidak suka) anda akan memberikan uang kepadanya, agar ia segera pergi.
Sekarang anda mengetaui kedudukan anda di hadapan Allah, apakah anda termasuk seorang hamba yang baik ataukah sebaliknya, seorang budak yang jelek, bilamana tidak di kasih gaji tidak mau bekerja. Allah berfirman:
“Katakanlah: sesungguhnya Aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan ‘amal yang sholih dan janganlah ia mempersekutukan dengan seorangpun dalam beribadat dengan Tuhannya” (al-qur’an-al-khahfi-110)
Dalam ayat ini ditegaskan bahwa: beribadat dengan tujuan selain Allah adalah syirik (dosa besar) termasuk beribadat agar selamat dari neraka maupun mendapatkan surga.( Artinya berangkat dari makhluk untuk makhluk (surga-neraka), bukan kepada Allah).
Sebagaimana ayat diatas bahwa: syirik ada dua macam. Pertama, syirik jahri (terang-terangan) seperti bersujud/memuja api/gunung/batu dan lain-lain sebagainya. Kedua, syirik khafi(samar) yaitu, beribadat kepada Allah, agar dimulyakan masyarakat, di puji-puji sebagai ‘ulama’ atau agar selamat dari neraka dan masuk kedalam surga.
Disini jadi jelaslah perbedaan kedudukan antara orang ‘awam dan orang khusus di dalam menjalankan ‘ibadat kepada Allah. Sebagaimana yang terjadi dikalangan orang ‘awam pada umumnya. hal ini terjadi karena kurangnya ilmu pengetahuan dan perhatian terhadap agama itu sendiri, sehingga mereka cenderung untuk menjalankan aktifitas agama secara formalitas belaka, tanpa memperhatikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, mereka menjalankan kegiatan ibadat hanya merupakan kegiatan rutinitas, asalkan sudah gugur kewajiban yang di bebankan, merekapun sudah puas,( ibarat orang punya hutang, asalkan sudah dibayar, bisa tidur dengan pulas), tanpa mengupayakan kesempurnaan di dalam menjalankan ibadat.
Dari praktek ibadat yang salah kaprah ini, mereka tidak bisa menerima anugrah yang seharusnya diterima, iman yang bersemayam di hati tidak ada peningkatan dari tahun ke tahun, bahkan sampai akhir hidupnya, imannya masih sebatas itu-itu saja.
Padahal kalau mereka mau, mereka dapat meningkatkan martabat kehidupan yang lebih tinggi dan mulia disisi Allah, dengan menambah ilmu pengetahuan dan memperbaiki kualitas ibadahnya, sehingga menjadi seorang hamba yang baik dan bisa berbakti dengan benar terhadap tuannya.
Kekhususan dalam beribadat ini dapat memicu iman didalam dada, iman terus berkembang tiada henti, seiring dengan ibadat yang dilakukan, dari aktifitas semacam ini tahap demi tahap akan meningkat kedudukannya disisi Allah, sehingga menjadi umat yang khusus. Allah berfirman:
“Ingatlah, sesungguhnya para kekasih Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira didalam kehidupan didunia dan (dalam kehidupan)di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat(janji-janji)Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”. (Al-qur’an- Yunus-62-64)
Martabat ini dapat di usahakan oleh siapa saja tanpa pandang bulu, modalnya iman yang dibuktikan dengan sifat taqwa, iman yang dikembangkan dengan sunguh-sunguh sehingga Nurul iman terpancar didalam hati.
Ada tiga (3) macam golongan beribadat kepada Tuhan:
1. Beribadat kepada Allah agar selamat dari neraka dan masuk surga (orang ‘awam), ini derajat paling rendah, karena apa yang dikerjakan ada pamrih untuk dirinya.
2. Beribadat kepada Allah, karena cinta dan sayangnya kepada Allah (mukhibbin), kedahsatan cinta kasih terhadap Allah, bergelora di dalam jiwa, sehingga surga dan neraka tidak berarti apa-apa baginya, seperti pengaduan Robi’ah al-‘adawiyah waktu munajad kepada Allah,
“Oh, Tuanku, Aku beribadat bukan takut kepada nerakamu dan bukan karena ingin surgamu, akan tetapi Aku memujamu karena aku mencintaimu, Tuanku, aku rela kamu masukkan kedalam nerakamu, tetapi jangan halangi aku untuk melihat wajahmu”.
Beribadat kepada Allah, tanpa bisa melihat bisa melakukan ibadat (‘arifin), seperti embun yang telah jatuh ke laut, dirinya hilang/lebur dalam kefanaan kepada Allah.